Nadea berfoto bersama orang tua
pendis

Berangkat Dari Keterbatasan, Nadea Lathifah Nugraheni Jadi Wisudawan Terbaik

 

Semarang (Pendis) – Meraih gelar sarjana dan mendapat predikat sebagai wisudawan terbaik, bukanlah hal yang mudah. Tetapi memerlukan dedikasi, perjuangan, semangat kerja keras. Inilah yang berhasil mengantarkan gadis yang berasal dari Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan Kab. Jepara, Nadea Lathifah Nugraheni mencapai predikat istimewa dengan IPK 3,94.

Lahir dari keluarga pas-pasan. Bapaknya Ahmad Bandawi semula sebagai tukang kayu dan cukup lumayan sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sang Ibu, Tri Rusminingish adalah sebagai ibu rumah tangga. Bapaknya mulai sakit-sakitan, sejak Dea sapaan akrab Nadea LN duduk dibangku MTs. Dan puncaknya terkena strok dan terbaring di rumah sakit sejak Dea Semester 4 sampai lulus.

Dea tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Hukum Pidana Islam di Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan menyelesaikan studi dengan skripsi berbahasa Inggris berjudul “An Analysis of Criminal Act of Sexual Gratification on Positive Law and Fiqih Jinayah Perspective“.

Skripsi yang ditulisnya mendapatkan penghargaan sebagai karya terbaik oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M). Atas saran banyak pihak termasuk para dosen, skripsi itu diterbitkan dalam Jurnal Ahkam UIN Walisongo yang telah terakreditasi. Dea berencana untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku,” papar gadis yang dipercaya sebagai Musrifah di Ma`had Al Jamiah Walisongo.

Ditanya apa rahasia keberhasilannya? Gadis kelahiran 18 Agustus 1997 ini mengaku, keberhasilan tidak lepas dari janji sucinya kepada kedua orang tuanya, sekitar dua tahun lalu. Saat itu ayahnya mengalami sakit strok yang kritis, hanya bisa berbaring di rumah sakit.

“Saya genggam tangannya dan katakan kepada bapak, bapak harus bertahan hidup, wong anake mau jadi sarjana dan nanti Dea, ajak naik ke panggung kehormatan saat jadi wisudawan terbaik,” ujar Nadea yang saat itu masih duduk di semester empat.

Meski studi yang dilaluinya sangat berat, dan tekanan keluarga serta ekonomi yang terbatas, tidak menyurutkan Nadea menjadi yang terbaik. Sejak bapaknya sakit, ibunya menggantikan mencari nafkah dengan menjajakan alat-alat tulis kantor dari rumah ke rumah dan dari tempat satu ke tempat lainnya.

Bapaknya hanya seorang tukang kayu dengan penghasilan terbatas. Berat baginya untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan tinggi. Keterbatasan itu dijadikan Nadea sebagai pelecut semangat untuk memenuhi janji sucinya kepada sang bapak, yaitu menjadi sarjana terbaik dan berdiri di panggung bersama kedua orangtuanya.

Atas kegigihan puterinya, ayahnya memberikan pesan: “Wong pinter ora bakal luwe, mesti ono dalane“. Inilah pesan ayah yang selalu terngiang dan memotivasi diri Nadea menjalani seluruh proses perkuliahan.

Semua rangkaian perkualiahan Dea rancang dan ia targetkan sebaik mungkin. Mulai mengikuti perkuliahan dengan baik, menulis skiripsi, tes TOEFL dan IMKA, mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga pendaftaran ujian Munaqosah.

Untuk bertahan hidup segala lini beasiswa ditembusnya dan demi menyelesaikan studi sarjana. Ia berhasil mendapatkan beasiswa prestasi mulai dari semester satu hingga akhir. “Saya juga sering menjuarai lomba Debat Bahasa Inggris dan menulis di media cetak maupun online. Mulai dari essay dan cerpen yang sempat dimuat menjadi antologi,” paparnya.

Pernah suatu ketika bapak kritis, sehingga ia dalam waktu satu minggu, tiap harinya bolak balik Semarang-Jepara demi membagi waktunya. Selain itu, pernah juga bolak balik Demak-Semarang yang saat itu sedang KKN.

“Tanpa berfikir panjang, saya langsung pulang merawat bapak karena saya sebagai anak pertama bersama dua adik yang masih kecil, usia dua tahun dan baru masuk SMP. Saya punya prinsip bahwa Tuhan tak akan menguji hambanya di luar kemampuannya. Ini yang terus menjadikan saya tegar,” paparnya.

Semua itu bisa berhasil ia lalui, tidak lepas support dari kyainya. “Beruntung saya ditempatkan di lingkungan yang baik bersama orang-orang hebat, di Ma`had Al Jamiah Walisongo, di bawah asuhan KH. Fadlolan Musyafa, yang selalu memberi dukungan,” ujarnya.

Baginya wisuda ini adalah tangga awal, masih banyak mimpinya yang harus ia wujudkan, demi memuliakan kedua orangtua, kyai, guru dan bermanfaat untuk negeri. “Saya berkeinginan kuliah S2 ke luar negeri yaitu Australia,” harapnya.

Atas prestasi terbaiknya Rektor UIN Walisongo Muhibbin memberikan beasiswa untuk studi lanjut S2 di almamaternya, sebagaimana janji yang diucapkan dalam sambutan dihadapan wisudawan kali ini. Sementara bagi wisudawan dengan IPK 3,5 ke atas akan diprioritaskan masuk ke kampus ini.

Selamat ya Nadea, semoga cita-citamu berhasil menjadi pelita tidak hanya keluargamu tetapi untuk bangsa dan negeri ini, (Adv/rb)

Share dengan…

Source link