pendis

DEMA FUAD IAIN Pontianak Gelar Dialog Kebangsaan

Pontianak (Pendis) – Orang yang paling bertaqwa adalah mereka yang memiliki sikap paling toleran, paling bisa memaklumi, memahami dan pengertian. Ketaqwaan seyogyanya melahirkan sifat toleransi dan kedinamisan. Q.S Al Hujurat:13 telah secara literal menyebutkan adanya keragaman (suku bangsa) merupakan kehendak Allah Swt, dan diciptakannya manusia adalah agar saling mengenal (lita`arafu).

Demikian disampaikan Saifudin Herlambang Pakar Tafsir IAIN Pontianak saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Pontianak, pada Sabtu (23/12).

Lebih lanjut dikatakan Saifuddin “lita`arafu” bermakna “litafahamu,” agar saling memahami atau “litafaqahu,” saling mengerti. Orang yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa, yaitu “mereka yg melakukan lita`arafu, litafahamu atau litafaqahu sebagai bekal memahami perbedaan antar sesama bahkan urusan agama dan keyakinan”.

Terkait dengan ayat kepemimpinan, Saifuddin Herlambang berpendapat bahwa QS. Al-Maidah 51 yang selama ini dijadikan dasar bahwa dilarang seseorang muslim memilih pemimpin non-muslim. “Janganlah seorang mukmin memilih orang kafir” maksudnya adalah jangan memilih orang-orang yang punya sifat kufur, yaitu mereka yang disebut orang-orang yang keras hati (Al Baqarah:6), orang yg munafik yang ngaku-ngaku beriman padahal mereka tidak beriman (Al Baqarah:8), orang yang mempunyai penyakit hati (atau Al Baqarah:10).

Sementara itu Ruchman Basori, Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama mengatakan antara Islam dan negara telah saling mengisi dalam konteks kebangsaan. Pancasila dinilai sebagai produk ijtihad kebangsaan para pendiri bangsa ini, yang telah membentuk ikatan nation state bernama Indonesia.

“Yang waras tidak boleh ngalah” dalam menyikapi kelompok-kelompok yang anti Pancasila dan NKRI menjadi penting untuk menuguhkan komitmen kebangsaan dan ke-Islaman. “Mahasiswa PTKI harus menjadi garda terdepan untuk menyiapkan kepemimpinan yang komitmen pada nilai-nilai kebangsaan,” katanya.

Mantan Ketua I Senat Mahasiswa IAIN Walisongo ini menegaskan mahasiswa telah mempunyai peran historis yang fundamental sebagai aktor perubahan bangsa sejak sebelum Indonesia merdeka hingga saat ini. Karenanya mahasiswa disebut sebagai the agen of change, agen of intelectual dan agen of development.

Untuk mempersiapkan “Kepemimpinan (Khalifah) Zaman Now” lanjut Ruchman Basori, mahasiswa mempunyai peluang besar mengambil peran-peran kepemimpinan, karena didukung dengan kapasitas intelektual, profesional dan moral yang kuat. Namun demikian harus memahami dengan baik issu-issu aktual global maupun nasional seperti ISIS, gerakan trans nasional, konflik kawasan, perbedaan ras dan Hak Asasi Manusia.

Dialog kebangsaan diikuti oleh 500 mahasiswa dengan menghadirkan sejumlah nara sumber Mayor Rustam Efendi Hasibuan Rohis Kodam Tanjung Pura, Saifuddin Herlambang Pemikir Islam IAIN Pontianak dan Ruchman Basori Kasi Kemahasiswaan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama. Hadir dalam dialog diantaranya Zainuddin Wakil Rektor III IAIN Pontinak, Dekan FUAD, para wakil dekan dan sejumlah dosen.

Ahmad Fauzi Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa FUAD mengatakan dialog yang mebahas kepemimpinan di zaman now merupakan keprihatinan mahasiswa akan munculnya gerakan yang mengusung khilafah Islamiyah, anti Pancasila dan NKRI. “Mahasiswa harus berperan mempersiapkan diri untuk memegang estafet kepemimpinan di masa yang akan datang,” katanya. (@viva_tnu/dod)

Share dengan…


Source link